Gambar Idoep

mencintai manusia,

mencintai bumi adalah

mencintai hidup itu sendiri…


   

<< July 2014 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


links::

 
Apr 18, 2005
Malam Di siang Hari

Catatan setelah pemutaran film Malam di siang hari

Rosebud, 13 April 2005

 

 

 

Awalnya untuk Lukitasari (sang sutradara) adalah Jawa, dan Jawa adalah sebuah petualangan dalam diam. Maka rumah tua yang hening, sepasang kekasih tua yang tak bergeming, dan sebuah undangan kematian untuk seekor kucing. Semuanya bergerak dalam irama yang dibangun dari gambar kekosongan. Gedung tua, kamar makan, dapur, ranjang, langit, bahkan perasaan terkapar sebagai perempuan dan laki-laki. Tetapi apakah Jawa berawal dari kekosongan?

 

Disini kemudian semuanya berawal. Karena kekosongan untuk Jawa ternyata bukan semata-mata emptyness atau kesia-siaan yang sempurna.  Kekosongan adalah kesediaan untuk bersimpuh di hadapan malam yang gulita, dan tunduk pada pagi yang pekat oleh terik surya, sementara waktu begitu melata. Kekosongan adalah berdiri tunduk pada langit tanpa pernah beertanya mengapa siang begitu meranggas sementara kelam tiba-tiba lenyap dalam pelukan kelam. Artinya menjadi Jawa adalah kesediaan untuk berbicara dengan  ruang waktu yang selalu menggeliat dan beringsut dengan lamban mengikuti gerak surya tenggelam oleh malam, oleh Betara Kala. Dan kemudian ruang dan waktu berulang keesokan harinya sampai suatu pengertian tentang diri terwujud dan terasah dalam sunyi, dalam hening, dan dalam keberanian untuk tidak bergeming. Jadi Jawa dalam kisah sepasang kekasih tua adalah bukan hubungan subyek dan obyek yang setiap saat harus digugat untuk kemudian disesali.

 

Dua antipoda untuk melihat Jawa inilah yang membakar diskusi setelah pemutaran film Malam di siang hari. Luki, mengambil antipoda pertama sementara Romo Kuntara, Emmanuel Subangun dan Wachid Hasyim mengambil antipoda kedua. Persoalan mendasar yang digugat dari Jawa adalah bahasa tembang yang menjadi leitmotiv dari film Luki. Untuk Romo Kuntara, yang ahli sastra Jawa Kuno, maka tembang adalah Jawa dan Jawa adalah tembang. Karena itu kata-kata adalah sacral, sesakral keberanian untuk mendendangkan kekosongan yang selalu berulang, berulang dan berulang. Pada tembang, kelihatan memang Luki meletakkan nafas Jawa tidak di dalam kedalaman kata-kata. Sehingga kesakralan tembang seperti menguap, walaupun dalam gambar dan atmosfir yang dia bangun, kelihatan sekali bahwa dia mencoba untuk berdiri di atas tembang. Tapi tembang, kata-kata dan gambar kemudian menjadi tiga elemen yang berdiri sendiri. Dan Jawa kemudian menguap oleh symbol, yang celakanya seperti digugat oleh Emmanuel Subangun, adalah pinjaman dari kaca mata orang asing untuk melihat Jawa. Maka kemudian pilihan pemakaian symbol Jawa yang bercerita tentang hidup dan kekosongan juga menjadi pusat diskusi. Laki-laki dan bukan perempuan, kehidupan dan bukan kematian, kemarahan dan bukan kesumarahan, adalah titik-titik simpual yang mempertemukan sekaligus menegaskan pandangan yang berbeda tentang Jawa.

 

Hal menarik dari serentetan diskusi yang ada, kemudian mulai kelihatan dua antipoda yang bergerak di dalam nalar masyarakat kita. Pertama adalah mereka yang merasa masih kenal dengan Jawa - nafasnya, semangatnya, wataknya, nyalinya, keterpurukannya, keberaniannya untuk melanjutkan waktu, dan ini celakanya dinahkodai oleh kelompok “tua”. Sementara antipoda lain adalah mereka yang kenal Jawa dalam bunyi atau nada yang disampaikan oleh orang asing. Maka teks, film, musik, gambar adalah medium yang dipakai bukan untuk berbicara dengan orang Jawa, tetapi medium yang memungkinkan mereka untuk bercakap dengan dunia luar. Jawa memang tidak tertutup, hermetic, dan tanpa bias ditolak menjadi eksotik. Tapi kita kemudian semakin dijauhkan dari kemampun untuk berdiri dan melihat kaki sendiri. Celakanya adalah kelompok “anak muda” yang berdiri teguh untuk membuka dunia, adalah penikmat eksotisme tanah sendiri.

 

Maka Malam di siang hari bukan hanya berbicara tentang bakat Luki yang telah ditengarai dengan kemenangannya di Italie. Film ini kemudian mempertegas seluruh pertemuan yang pernah diselenggarakan di Rosebud, bahwa kita semakin kehilangan kemampuan untul melihat diri sendiri. Maka dari itu bergabunglah bersama kelompok diskusi Rosebud, mungkin suatu hari pertanyaan seputar film, syair, arsitektur dan ruang, film, musik, atau apa saja yang bergerak di ruang kita sebagai manusia Indonesia selalu bias dirumuskan sendiri. Selamat datang Luki pada pencarian untuk menjadi diri sendiri!

 

 

Jakarta, 17 April 2005  

 

 


Posted at 10:07 am by Langitku
Make a comment  

 
Apr 6, 2005
wong kar wai

IN THE MOOD FOR Wong Kar Wai

 

 

 

Gemanya nyaris lenyap ditelan Ang Lee, yang berjaya di Hollywood dengan Crouching Tiger and Hidden Dragon, film yang berhasil menggondol 4 Oscar dan menjadi film asing (Asia) pertama yang menenggak sukses komersial dunia. Tetapi ketika Cannes meminta Wong Kar Wai tahun untuk menjadi salah satu pengajar dalam program Leçon du Cinema, sebuah program khusus pada Festival Cannes untuk memperkenalkan cara bertutur setiap tokoh yang dianggap kharismatik dalam dunia film, maka rasanya Wong Kar Wai bukan hanya pantas untuk kita bicarakan karena dia hadir di program tersebut. Wong Kar Wai adalah fenomena berfilm cara Asia.

 

Namanya mulai diperhitungkan oleh cineast Eropa ketika ia menggarap Chunking Express, dan kemudian tahun 1997 filmnya Happy Together  memenangkan criteria sutradara terbaik pada Festival Cannes. Tahun 2000 namanya kembali mempertebal ingatan publik film akan dirinya lewat In The Mood For Love, yang membuat Tony Leung sang pemain utama merebut gelar aktor terbaik pada Festival Cannes tahun tersebut. Di Perancis film ini dianugerahi piala Cesar, penghargaan tertinggi dalam dunia film, untuk kategori film asing terbaik. Dan dalam katalog film terakhir yang dilihat oleh sutradara ternama dari seluruh belahan dunia, versi Cahier du Cinema, film ini masuk dan mengisi daftar paling panjang, justru di atas Crouching Tiger and Hidden Dragon.

 

Tak ada yang biasa pada Wong Kar Wai, justru ketika ia bercerita tentang hal-hal yang sangat biasa. Happy Together dan In The Mood For Love adalah dua film luar biasa untuk cerita tentang perjalanan manusia yang sangat biasa tersebut. Yang pertama bercerita tentang sepasang kekasih homoseksual yang musti tersesat dalam gelapnya perasaan berkekasih. Film ini memotret dengan pilu ketersesatan tersebut jauh di negeri seberang, Argentina. Ideologi tango - bahwa hanya dengan mengerti arti sebuah perasaan tersayat oleh cinta maka tak akan penari tango salah langkah - memang kemudian menjadi nadi seluruh kepiluan. Pilihan untuk memakai film hitam putih dan bukan berwarna, seperti sebuah pilihan yang secara artistik dipikirkan dengan cerdas untuk berkata bahwa hidup tidak selamanya “en rose”. Seperti juga pilihan tampilan sehari-harinya sendiri untuk selalu melindungi kedua matanya  dengan kacamata hitam. Maka gambar yang bergerak di layar dalam seluruh filmnya selalu tidak jernih dan bersih. Buram!

 

Sementara film kedua bertutur tentang sepasang laki-laki dan perempuan, masing-masing beristri dan bersuami, yang oleh hal sepélé sehari-hari yang serba biasa celakanya dipaksa bertemu dan berenang dalam gelapnya perasaan yang sama: berkekasih. Mengambil setting Hong-Kong tahun 60an, kalau Happy Together mengambil langkah tango,  In The Mood For Love mengambil langkah barongsai yang terluka. Irama film yang lambat kemudian seperti menjelaskan betapa perih luka yang harus dirasa sementara pada saat yang sama langkah tetap harus dijaga, dan kepala naga musti tetap ditegakkan agar tarian bisa diselesaikan. 

 

Cinta adalah tema paling biasa untuk diangkat sebagai sebuah naskah film. Tapi cinta untuk Wong Kar Wai selalu bersifat ambigu karena dia dibangun dari dua tiang perasaan: cinta itu sendiri dan kepiluan. Maka cinta à la Wong Kar Wai tidak dibombardir oleh nafsu apalagi naluri untuk memiliki, sementara kepiluan tidak boros air mata apalagi dorongan untuk terkapar. Ambiguitas kemudian justru menjadi kekuatan pada semua segi, pada cinta itu sendiri maupun pada perasaan pilu yang menemani.  Maka dari ambiguitas awal kita dipaksa menelan ambiguitas yang lain, yang memang lahir karena ambiguitas pertama diterima.

 

Bahasa paling artistik dari permainan ambiguitasnya adalah gerak tubuh dan pilihan musikal. Musik menjadi elemen kuat yang menentukan selera artistik seluruh filmnya, sebagaimana pilihan shot pada gesture tubuh yang sangat biasa dari perjalanan kegiatan sehari-hari manusia (langkah kaki). Masih lekat dalam ingatan saya accordeon Richard Galliano yang menemani langkah Tony Leung menyusuri jalan Buenos Aires pada Happy Together, atau musik liris tahun 60an yang mengiringi langkah Tony Leung atau Magie Cheung  pada In The Mood For Love. Langkah kaki yang secara ritmik mengikuti musik yang sama, dan secara sengaja berulang-ulang  didengarkan, seperti memberi peringatan bahwa tubuh dan perasaan seperti yang dituturkan oleh Wong Kar Wai berasal dari pengertian hidup yang lain. Sebagai kisah cinta, tidak Titanician dan juga tidak Shakespierrian. Cinta tidak tumbuh dari kekosongan, dan yang paling penting tubuh tidak menjadi instrumen pikiran atau perasaan untuk sekedar mengisi kekosongan. Oleh karenanya kisah cinta chez Wong memang bercerita tentang romantisme utopik, tapi tidak pernah menjadi fantasmagorik.

 

Pada tingkat ini kita memang tidak punya pilihan lain kecuali menerima bahwa tubuh dan perasaan yang lahir dari interpretasi Wong Kar Wai tentang hidup sangat non-Barat sekaligus sangat non-psikoanalitik. Kalau  cinta pada film secara umum selalu mudah terjebak kedalam proses banalisasi à la psikoanalisa Freudien, maka pada Wong Kar Wai  cinta justru menemukan ke-baroque-annya dari gerak tubuh yang berpadu dengan musikalitas perasaan yang terluka. Gerak luka yang selalu mengulang-ulang kemudian bukan semata-mata sebuah repetisi. Repetisi juga bukan sebuah kesedihan tragis.  Repetisi untuk Wong adalah kesediaan untuk melihat bahwa dalam gerak selalu ada keteguhan hati. Dan dalam keteguhan tersebut selalu ada kemungkinan untuk melanjutkan perjalanan.

 

Jelas ada bahasa cinematografi yang sama sekali berbeda dari cara bercerita Ang Lee dan Yang Zimou, dua sutradara Asia yang juga mendapatkan kebesaran namanya dalam peta film dunia (Barat). Apalagi kalau ia musti dibandingkan dengan selera bertutur sutradara Hollywod. Wong Kar Wai seperti mahluk luar angkasa  yang tidak jelas identitas dan kategori speciesnya. Dan justru karena ia keluar dari identitas dan kategori species sutradara biasa, maka Wong Kar Wai menjadi Wong Kar Wai, dan tidak menjadi siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.


Posted at 10:34 am by Langitku
Make a comment  

 
Jul 22, 2004
NOWHERE IN AFRICA
Director: Caroline Link
Pemain: Juliane Köhler, Regine Zimmermann, Merab Ninidze, Matthias Habich, Gabrielle Odinis

Hal yang paling tidak saya sukai sebenarnya adalah reuni.Setiap ada reuni, apa saja baik sd, smp, temen2 kuliah sampai reuni sanggar tari dimana saya dulu belajar,saya selalu menghindar dengan berbagai alasan agar tidak datang. Biasanya kalau saya tidak datang, keesokan harinya telpon atau sms bertubi2 datang dan menanyakan alasan kenapa saya tidak datang. Seperti biasa otak saya sangat cepat kalau hanya mencari alasan. Mulai dari saya sakit sampai nenek saya meninggal ( sumpah saya tidak bohong nenek saya memang sudah meninggal 10 tahun yang lalu, saya tidak menipu mereka karena saya cuma tidak menyebukan kapan nenek saya meninggal bukan?). tetapi alasan sebenarnya adalah:pertama, saya tidak suka membingkai waktu. Saya tidak suka mengambil kenangan yg sudah terlipat rapi di tempatnya untuk diaduk2 kembali dengan kekinian saya. Kedua, saya benci ketika orang mengharapkan kekinian saya itu harus sama dengan masa lampau. Ketika saya datang dengan tampang tetap lusuh, rambut acak2an, dan ketawa ketiwi yang sama, teman2 saya selalu berkomentar: ah kamu itu masih sama tidak juga dewasa. Kemudian ketika mulai bercakap2 dan mereka tahu isi batok kepala saya yg sekarang komentar mereka : AH kamu kok beda sekali sih. Bukannya makin tobat malah makin radikal. Lah mereka maunya apa? Sebenarnya siap tidak mereka dengan perubahan? Perubahan sekecil apapun pasti membawa ketidaksiapan. Orang akan selalu lebih suka berada dalam ‘comfort zone’ mereka. Takut, cemas , kawatir.jika harus keluar sarang.

Nowhere in Africa bercerita tentang satu keluarga Jerman yang berimigrasai ke Africa karena mencoba menyelamatkan diri dari kekejaman Nazi pada tahun 1938. Walter Redlich, istrinya Jettel dan anak mereka Regina. Dari keluarga kelas menengah yang sangat mapan mereka harus menjadi petani di Africa dengan kondisi alam dan budaya yang sama sekali berbeda. Juru masak mereka Owour adalah sahabat pertama mereka yang mengajarkan mereka tentang budaya Africa, bahasa dan bagaiamana mereka bertahan hidup di negeri yang sangat asing. Plot film sangat tertata diselingin sinematografi yg matang, sound design yg menyatu dan permainan bagus dari julane kohler sebgai Jettel. Seorang istri yang manja dan pada akhirnya dia menjadi matang baik dalam memandang hidupnya yang tidak selalu berjalan mulus. Saya sangat suka bagaimana dia harus menekan emosinya saat dia tahu Regina melihatnya tidur dng tentara jerman agar suaminya bisa dibebaskan. Bagaimana walter dan jettel harus menyelesaikan hal2 yang tidak pernah mereka selesaikan selama ini sebagai suami istri. Dan pada akhirnya Africa membuat pribadi2 mereka menjadi matanga. Saat keluarga ini kembali ke Jerman, Africa tetaplah rumah bagi mereka.

Berubah. Itu sebenarnya bagi saya yang harus setiap manusia sadari. Setiap hari pasti ada perubahan. Satu uban tumbuh. Satu tunas tumbuh, ada daun gugur. Kelahiran.kematian.perubahan sering mengerikan tetapi tak jarang juga membahagiakan. Bahkan cinta pun selalu berubah. saya pernah dicemooh dan dianggap skeptis karena opini saya bahwa cinta pertama dan cinta sejati itu tidak pernah ada.mengapa? bagi saya setiap saya mencintai seseorang selalu pertama dan sejati. Pertama karena saya pasti tidak akan memberi cinta yg kepada orang itu sebuah cinta yg sama yg telah saya berikan kepada orang lain. Sejati karena setiap saya mencintai seseorang saya selalu sungguh2 dng cinta saya. setiap cinta pasti berubah. Perhatikan saja, disaat kita jatuh cinta, di dalam cinta dan memelihara cinta. Samakah? Bagi saya, cinta selalu membawa tanggung jawab. Kesetiaan terhadap cinta bagi saya yg menentukan perubahan cinta itu. Kesetiaan bukan kepada invidiu tetapi lebih kepada cinta itu sendiri. Jadi kalau saya menuntut kekasih saya setia. Itu saya tidak menuntut dia setia kepada saya. Tetapi setia kepada keputusannya mencintai saya.

Kesadaran akan perubahan inilah yg sebenarnya harus selalu kita sadari. Karena kalau tidak, kita akan selalu terebelenggu waktu, terbingkai kenangan. Semua hal di dunia setiap harinya selalu tdk akan pernah sama. Hanya kedewasaan kita menghapdai perubahan itulah yg membuat kita berani mengisi hidup. Jadi itulah kenapa saya tidak pernah datang reuni. Saya benci ketika dalam kekinian jiwa kita terbingkai dng masa lalu. Saya hanya menyukai satu waktu SEKARANG.


Posted at 01:30 am by Langitku
Comments (2)  

 
Jul 4, 2004
November 1828

November 1828
Directed and written by Teguh Karya

Pemain: Slamet Rahardjo, Yenny Rachman, Sardono W. Kusuma, Sunarti Rendra, Maruli Sitompul

Saya tidak suka dipotret. Jadi kalau melihat album-album foto di keluarga saya, pasti saya berdiri paling tidak keliahatan atau wajah saya selalu keliatan cemberut. Dulu, bapak saya sering marah karena beliau suka memotret. Bahkan memotret apa saja, pemandangan, suasana kota, arisan, bahkan adik-adik saya yg sedang tidurpun dia potret. Saya tidak habis mengerti dengan kesenangan dia sampai satu hari di suatu sore di hari hujan, saya bertanya tentang kegemaraannya itu. Jawabannya sederhana: kita bisa belajar sejarah. Tetapi sebenarnya untuk apa kita harus belajar sejarah? Bagi saya belajar sejarah seperti halnya merangkai puzzle-puzzle hidup dalam bingkai-bingkai waktu. Dan jika tidak hati-hati waktu-waktu itu akan mengikat kita untuk selalu berada di tempat yang sama. Tidak bergerak sama sekali. Sejarah selalu berkaitan dengan kejadian,ruang dan waktu. Ruang adalah tetap ,waktu selalu bergerak, sedangkan kejadian selalu relatif. Bagi saya jika ada satu variabel di atas yang berbeda sedikit saja, pemaknaannya haruslah berbeda mengikuti kekinian yang ada.

November 1828 adalah film indonesia tentang sejarah favorite saya setelah Tjut Nya Dien. Film ini memamerkan tradisi masyarakat Jawa yang sangat liat untuk ditindas. Ide ceritanya diilhami dari drama Montserrat. Film ini juga mendapat banyak penghargaan, termasuk Citra FFI 1979 untuk film, Sutradara, Musik, Artistik, Pemeran Pembantu Pria (El Manik). Dengan pengambilan gambar di daerah Bantul, Yogyakarta, November 1828 mengambil setting periode Perang Jawa (1825-1830). Perang ini pecah akibat munculnya intrik internal di lingkungan keraton Yogyakarta dan juga merupakan reaksi keras masyarakat Jawa Tengah atas kebijakan Belanda yang memperkenalkan birokrasi kolonial modern berbasis pungutan pajak di Pulau Jawa. Dipimpin oleh Pangeran Diponegoro yang kharismatik, perang ini merupakan salah satu simbol penting perlawanan terhadap pemaksaan kolonialisme Belanda di Jawa. Satu hal yang membuat Teguh Karya sebagai salah satu idola saya itu karena ketelitian penyutradaraannya baik dari akting para pemainnya sampai ke detilnya. Baik itu di kostum ( saya sangat salut dengan riset yang dilakukan untuk membuat kostum yang mendekati keadaan real jaman itu. Bandingkan dengan para pembuat sinetron yang bersetting jaman yang lebih awal tetapi memakai kain yang gemerlap dan berwarna warni. Padahal selain batik2 pesisir, warna pada batik sebelum tahun 1900 an hanya mengenal beberapa warna dasar saja seperti biru, putih, hitam, dan coklat). Musik yang digarap oleh Franky Raden dan Sardono W Kusumo memberi aksen suasana jaman saat itu menjadi lebih kental. Bagi saya November 1828 lebih sebuah relativitas kejadian dalam penggalan satu waktu untuk sebuah dimensi ruang. Tidak ada salahnya kita mengalaminya agar justru tidak terjebak dalam romantisme yang sering menyertainya.

Sekarang ini saya sedang menabung agar bisa membeli kamera digital. Saya ingin meniru bapak saya untuk memotret apa saja yang terjadi di sekitar saya. Tetapi jika anak saya nanti bertanya untuk apa saya tidak akan menjawab untuk belajar sejarah. Jawaban saya adalah: saya ingin membekukan semua relativitas kejadian, bergeraknya waktu, dan tetapnya ruang di tempat yang seharusnya berada. Karena jika saya lupa membawa kejadian yang dimiliki waktu sebelumnya ke waktu yang sekarang dalam ruang yang tetap, saya hanya akan terikat oleh kenangan. Dan buruknya kenangan sering menjebak saya dalam romantisme yang tidak sesuai lagi dengan kekinian ( mungkin karena itulah saya sangat tidak suka dengan reuni apa saja). Jika kekinian itu tidak sesuai lagi dengan kenangan, kekinian sekarang akan membawa penyesalan. Meski kenangan selalu indah, harapan selalu mengkawatirkan, saya ingin mensejarahinya dalam satu tempat: sekarang. Kekinian saya.

note: thanks to disctarra yg telah merelease film ini dalam bentuk vcd


Posted at 12:29 am by Langitku
Make a comment  

 
Jul 1, 2004
13 Conversations about one thing


13 Conversations about one thing


directed by Jill Sprecher

Pemain: Matthew McConaughey , Alan Arkin , John Turturro , Clea DuVall , Amy Irving , Barbara Sukowa , Tia Texada



Baru-baru ini seorang sahabat baik saya menulis di blognya bahwa salah satu alasan dia untuk masih menjadi ‘jojoba’ ( jomblo jomblo bahagia) dan belum/tidak menikah adalah dia belum cukup yakin bahwa menikah belum tentu menjamin kebahagiaan. Begitu katanya. Andaikan saya ada di dekatnya saat dia menulis statement itu tentu saya akan bertanya padanya :Ca, sebenarnya bahagia itu bagaimana sih? Dan saya yakin dia yang keliatan lebih manis dengan rambut pendeknya itu butuh waktu untuk menjawabnya.
Bahagia adalah kata ajaib ( ah lebih tepatnya spt DHA pada susu formula bayi yang menyihir ibu2 dng janji anaknya bakal sejenius Enstein) Hampir semua manusia di jagat raya ini bakal rela melakukan hal demi kata itu. Samakah kata bahagia dengan senang?gembira? suka cita?


Kebahagiaan adalah subyek dari film ini. Demi kata itulah, kebahagiaan menjadi subyek bukan sekedar obyek dari setiap topik percakapan yg ada: mencari kebahagiaan, iri akan kebahagiaan, kehilangan kebahagiaan hingga rasa bersalah karena rasa bahagia yang tidak pada tempatnya. Kebahagiaan adalah salah satu alat pemicu hasrat manusia agar tetap ingin hidup, dan mencandu agar saat dia bangun tidur dia tahu untuk apa dia hidup. Dibuka dng scene Consider Troy ( Matthew McCounaughey) jaksa penuntut yg baru saja memenangkan satu kasus besar dan mentratktir semua org di bar agar bahagia. Di bar itu ada Gene ( Alan Arkin) satu manajer menengah yang pesimis untuk bahagia karena dia harus memecat Wade orang paling bahagia di kantornya. Kemudian saat Troy pulang dalam keadaan mabuk dia menabrak seorang gadis dan berpikir bahwa gadis itu telah mati. Film ini menghubungkan antara orang-orang yang tadinya asing satu sama lainnya. Satu masalah yang selesai di satu orang menimbulkan masalah lain di orang lain. Kita bisa lihat Walker ( John Turturo) yang meninggalkan istrinya karena percaya itu salah satu cara dia meraih kebahagiaannya. Juga ada serorang pembantu rumah ( Clea Duvall) yang dituduh mencuri jam karena dia menghilang tanpa memberitahu tuannya ( di ending cerita kita akhirnya tahu bahwa dia adalah gadis yg ditabrak Troy). Topik mencari kebahagiaan ini menjadi menarik karena orang-orang ternyata berbeda-beda memaknai kebahagiaan. Kadang kita telah mengambil satu tindakan yang kita pikir kita akan bahagia dengannya tapi hasil yg kita dapat justru sebaliknya.


Kalau sahabat saya yg baik dan manis itu bertanya menurut saya bahagia itu seperti apa. Saya mungkin akan jawab bahagia itu seperti influenza. Relatif dan tergantung musim datangnya. Tidak ada bagi saya terminology “ bahagia selama-lamanya “ atau “ bahagia sampai akhir hayat” seperti ucapan-ucapan klise kalau kita menyelamati orang kawinan itu. Pagi ini saya bisa bahagia dan siang nanti mungkin saya bisa berduka vice versa. Seperti influenza dia bisa datang mendadak dan kapan saja semau-maunya. Ah, saya tahu jawaban saya itu pasti membuat sahabat saya yg suka centil kalau ada cowok pintar itu tidak puas. Baiklah, mungkin lebih tepatnya dia seperti influenza yang di saat kita sakit flu kita bisa mensyukuri betapa senangnya hidup sehat. Jadi bahagia lebih berkonotasi rasa syukur atau terima kasih karena kita telah diberi sesuatu. Rasa terima kasih yang seharusnya selalu ada atas hal-hal yang kecil terjadi dalam hidup. Nah kalau saya ditanya kapan saya merasa paling bahagia? Jawaban saya adalah : saat saya bangun pagi dan tahu untuk siapa saya bangun pagi.


Seperti merasakan ruap the panas di perkebunan the yang dingin tempat sahabat saya tinggal itu, bahagia seharusnya memberi rasa hangat bagi jiwa kita. Sebuah rasa yang mampu membuat kita meyakini bahwa tangan-tangan kosmis yang mengatur hidup ini sangatlah pemurah dan penyayang.


( sebuah sms masuk dari temen kantor: One monk said to the others “ if you can’t pray well, let’s make fun. It’s better to make God laugh than give Him those meaningless words)


Posted at 12:10 am by Langitku
Comment (1)  

 
Jun 26, 2004
Sliding Doors


Directed by Peter Howitt


Pemain: Gwyneth Paltrow,John Lynch,John Hannah,Joanne Triplehorn



Hal yang paling menyebalkan bagi saya adalah sakit gigi. Satu gigi geraham saya sudah mati sehingga kadang gusi saya menjadi bengkak. Dan jika hal ini sedang terjadi, saya pastilah menjadi orang yang paling pengeluh di dunia. Semua hal di mata saya menjadi selalu salah, orang-orang sekitar saya selalu tidak pernah benar di mata saya. Pendeknya saya menjadi orang paling menyebalkan di alam semesta ini. Padahal jika saya mau saja banyak berpikir lebih jauh sebenarnya mungkin saat saya sakit gigi itulah sebenarnya hal terbaik sedang terjadi dalam hidup saya. Misalnya karena saya sakit gigi saya jadi malas untuk makan empek2 kegemaran saya, dan jika saya tidak makan empek2 berarti saya bisa terhindar dari derita maag saya yang sudah kronis menjadi lebih parah lagi.


Sering hal-hal yang buruk kita bahwa kesialan sedang menghampiri kita padahal mungkin justru hal sebaliknya yang terjadi. Itu satu hal yg saya selalu ingat karena menonton film ini. Sliding Doors, dari segi cerita tidaklah terlalu istimewa tetapi justru saya sangat suka bagaimana plot film ini ditulis. Helen ( Gwyeneth Paltrow) terlambat masuk kantor dan akhirnya dipecat dari pekerjaannya. Saat dia dalam perjalanan pulang secara tak sengaja di tangga kereta bawah tanah dia menabrak seseorang yg berakibat dia terlambat masuk kereta karena pintu gesernya telah menutup. Dari sini kamera bergerak mundur kita bisa melihat bagaimana jika dia tidak terlambat masuk kereta. Pada awalnya screen split menjadi 2 dan kita bisa melihat Helen A yang terlambat masuk kereta dan Helen B yang tidak terlambat. Kemudian plot menjadi bertumpuk dan saling silang bercerita masing-masing jalan hidup Helen. Jika dia tidak terlambat dia akan menemui kekasihnya Gerry (John Lynch) sedang bermesraan dengan Lydia (Jeanne Tripplehorn) sehingga dia depresi kemudian justru malah berakibat kematiannya. Sebaliknya karena dia terlambat dia tidak mendapati kekasihnya berselingkuh, dan semua peristiwa yang terjadi tidak berakibat kematiannya. Yang menarik transisi antar kedua plot dalam satu film ini sangatlah halus dan terkonstruksi dengan baik. Setiap detil tempat, situasi dan orang-orang yang ada meskipun sama tetapi bagaimana kita bisa melihat ke dua Helen ini mempunyai jalan hidup yang berbeda ( kita bisa lihat di sebuah café bagaimana jika Helen yg depresi dan yang tidak menemui jalan hidup yang berbeda). Meskipun bagi saya Sliding Doors tetaplah sebuah film komedi romantis, tetapi bagi saya film ini tidaklah seperti film-film komedi romantis ala Meg Ryan ataupun Sandra Bullock yang sering membuat saya ingin mengalami nasib seperti tokoh2 yang mereka mainkan itu. Sliding Doors menyisakan satu hal yang selalu saya ingat disaat saya pikir saya adalah orang yang paling malang di dunia:
Semesta selalu bijak dan pengasih,Dia selalu memberi semua hal yang kita perlukan bukan hal-hal yang kita inginkan. Sekecil apapun hal yang terjadi dalam hidup, baik itu berupa kegembiraan maupun kesedihan pastilah hal terbaik yang diberi Semesta kepada kita.


( hmm…tetapi jujur, sungguh sulit untuk tetap berpikir jernih seperti itu di saat sakit gigi lho!)


Posted at 11:52 pm by Langitku
Comment (1)  

 
Jun 25, 2004
The Last Temptation of Christ

The Last Temptation of Christ
Directed by Martin Scorsese
Pemain: Willem Dafoe, Harvey Keitel, Barbara Hershey, Victor Argo

Saya paling tidak suka mengingat saat saya anak-anak. Karena saya selalu melihat satu sosok anak perempuan yang terlalu penakut terhadap banyak hal. Saya takut ulat, saya takut topeng monyet, saya takut kucing, saya takut menyebrang jalan, saya takut di rumah sendiri, saya takut malam, saya takut tertidur bahkan saya takut Tuhan. Rasa takut itu sungguh menyiksa dan kadang membuat saya berpikir mungkin saya telah gila. Sehingga waktu saya SMP ada serorang kakak teman membuka biro psikiater, sayalah pasien pertamanya ( karena saya memang berpikir saya gila waktu itu). Tetapi sungguh mengecewakan, kakak teman itu dalam diagnosa pertamanya hanya bilang: ah Nja, itu wajar karena kamu adalah manusia. Kalau kamu takut berdoa saja pada Tuhan. Prekk sejuta! Itulah umpatan saya dalam hati saat saya keluar dari ruangan dia. Wajibkah manusia harus mempunyai rasa takut? Atau menjadi manusia adalah jawaban yg paling gampang untuk setiap hal yang sering tak terjawab?

Ketika tahun 1988 Martin Scorsese memfilmkan The Last Temptation of Christ yang screenplaynya ditulis oleh Paul Schrader berdasarkan novel by Nikos Kazantzakis , hal pertama yg saya pikir adalah menonton film ini justru kita harus melepas ‘kemanusiaan’ kita yang sepaket lengkap dengan ego. Film yang mungkin paling controversial yg pernah saya lihat ( Passion of Christ mah lewat jaohh) ini menceritakan tentang Yesus dari sudut pandang dia sebagai manusia utuh. Lengkap dengan rasa takut akan panggilan suci dari Tuhan dan mencoba segala cara agar Tuhan membencinya ( mungkin konsep ini yg membuat film ini dari awal sudah membuat orang-orang yg dogmatis bakal menghujat mati Scorsese). Film ini mengisahkan sejarah Yesus dari awal dia menerima wahtu kenabiannya hingga hari penyalibannya. Bagaimana Yesus ( William Dafoe) digambarkan sebagai sosok yang lemah, peragu,penakut begitu ingin menolak ‘tugas’ nya sebagai utusan. Dia juga digambarkan tergoda dan bercinta dengan Maria Magdalena seorang pelacur . Keraguan Yesus sebagai utusan inilah yang coba ditampilkan Scorsese secara utuh. Bahkan saat dia menerima tugas sebagai utusan hingga saat penyalibannya keraguan ini masih ada. Di titik-titik kematiannya inilah uji coba terhadap kemantapan hatinya diuji. Film ini sangatlah cerdas menampilkan sisi manusia Yesus dan mampu mencabik emosi yg menontonnya ( tentu saja jika Anda rajin ke sekolah minggu). Dan film itu berakir hanya kalimat yang keluar dari mulut saya: Scorsese memang Anjing!!! ( maksudnya saya spechless hehehehe).

Kembali ke soal rasa takut saya. Akhirnya dari diagnosa kakak teman saya itu, saya yang waktu itu baru saja tumbuh buah dada saya justru hilang rasa takut saya pada satu hal ( lumayan kan?). Saya jadi tidak takut lagi pada Tuhan. Saya justru jatuh sayang dan kasihan sekali padaNya. Betapa tidak, Dia menjadi alasan dan kambing hitam bagi setiap hal buruk yang terjadi pada manusia karena kesalahan manusia sendiri. Kalimat-kalimat: Kehendak Tuhan, cobaan Tuhan, atau Tuhan sedang menguji kita menjadi dalih akan rasa takut manusia mengakui bahwa semua hal buruk terjadi karena kesalahan manusia sendiri. Mungkin seperti Yesus yang menjadi nabi, sebenarnya manusiapun takut menjadi manusia yang bertanggung jawab atas nama manusia.

Anyway, paling tidak saya cukup senang dan berterima kasih pada kakak teman saya selain satu rasa takut saya hilang, saya tidak perlu membayar ongkos konsultasi dia. Dan saya tetap punya banyak rasa takut…sampai sekarang!

NOTE: Tontonlah film ini dengan lapang otak dan jiwa dan perbanyaklah senyum agar terhindar dari stroke, keguguran maupun jantung koroner akibat kemarahan yang serius.


Posted at 11:12 pm by Langitku
Make a comment  

 
Jun 23, 2004
Living Out Loud

LIVING OUT LOUD
Written and directed by Richard LaGravenese.
Pemain: Holly Hunter, Danny DeVito, Queen Latifah. Martin Donovan Elias Koteas

Beberapa waktu yg lalu seorang sahabat lama menelpon. Alangkah senangnya bertemu dia kembali ( masih jelas dalam ingatan saat kami SMA dulu kami suka berlomba paling dulu mencapai puncak saat mendaki gunung hanya untuk melihat matahari terbit dan paling keras berteriak : Anjing!). Saat dia bercerita tentang pekerjaannya sekarang (peneliti untuk WWF di hutan Kalimantan) satu pertanyaan spontan keluar dari mulutku ( yg sedang sariawan ): Kamu tidak takut sepi di hutan? Dia balik bertanya: What do you mean? Alone or lonely? Kamu sendiri bagaimana tidak takutkah kamu sepi di kota yang gemuruh ini?

Satu pertanyaan yang sulit dijawab. Kesepian seperti hantu yang sering datang tiba-tiba. Bahkan saat kita ada dalam gemuruh pesta, gelak tawa dan hiruk pikuk keramaian yang menyebelubung. Kita berpura-pura untuk tersenyum bahkan tertawa hanya untuk menipu diri kita sendiri bahwa tak seorangpun mampu menemani hati kita. Tetapi yang paling mengerikan adalah saat kita justru kesepian ketika kita bersama orang yg kita cintai tetapi kita tak bisa ‘menyentuh’nya.

Film yang diilhami dari novel Anton Chekov ini bercerita tentang Judith Nelson ( Holly Hunter ) yang rela keluar dari sekolah kedokteran untuk menikah. Tak lama kemudian dia bercerai karena suaminya jatuh cinta dengan rekan sejawatnya. Judith yang tinggal di sebuah apartemen mewah di New York begitu kesepian bahkan dia sering memanggil ‘tukang pijat lelaki’ hanya untuk menemani dia bercakap. Sampai pada suatu hari dia berkenalan dengan Pat Francato ( Danny De Vito) janitor dan penjaga lift di apartemen itu. Pat yang begitu labil jiwanya karena kematian anak perempuannya itu menjadi pendengar yang baik bagi Judith. Tetapi sebuah hubungan dari jiwa-jiwa yang rapuh mungkinkah bertahan? Secara pribadi saya sangat menyukai acting De Vito di film ini ( mengingatkan saya dengan Robin William di Oneh Hour Photo), dia sangat keluar dari stereotype film-film dia selama ini ( mungkin ini proyek pribadinya karena dia sendiri yang menjadi produser film ini). Dengan seting-seting yang gelap, gambar-gambar yang diam, membuat mood film ini sangatlah depresif. Musik-musik jazz yang dilantunkan Quenn Latifah si pemilik café tempat Judith biasa menghilangkan kesepiannya sungguhlah layak untuk dikoleksi soundtracknya.

Kembali ke sahabat saya tadi, dia meneruskan kalimatnya dengan sebuah statement yang mungkin bakal saya ingat semampu saya mengingatnya: nja, kesepian itu sampai kiamatpun tak bakal bisa dilawan. Karena rasa itu datang dan perginya tergantung diri kita memaknai hal-hal sekitar kita dan apa yang terjadi dalam hidup kita. Jadi daripada kita menghabiskan energi untuk melawannya mengapa kita tidak mencoba untuk bersahabat saja dengannya.

( ah, ingin kukatakan padanya bahwa beberapa hari yg lalu aku menulis tentang kesepian sebagai bentuk kehilangan akan rasa percaya. Dan ketika manusia sudah kehilangan rasa percaya terhadap apapun yang ingin dia percayai, saat itu pulalah dia telah bersiap memembunuh dirinya dng hantu kesepian tadi) tentu saja aku agak gengsi menanggapinya maka daripada aku bingung aku bilang saja wah..makanya lagunya Pas band yg judulnya kesepian kita itu asyik ya

Ingatkah kita pernah saling memimpikan
Berlari-lari tuk wujudkan kenyataan?
Lewati segala keterasingan
Lalui jalan sempit yang tak pernah bertuan
Ingatkah kita pernah berpeluh cacian
Digerayangi dan geliati kesepian
Walaupun sejenak nafas dari beban
Tuk lewati ruang gelap yang teramat dalam
Hidup ini hanya kepingan
Yang terasing di lautan
Memaksa kita, memendam kepedihan
Tapi kita juga pernah duduk bermahkota
Pucuk-pucuk mimpi yang berubah jadi nyata
Dicumbui harumnya putik-putik bunga
Putik impian yang membawa kita lupa


Posted at 11:04 pm by Langitku
Comments (3)  

Taste of Cherry

Taste of Cherry
Directed and written by
Abbas Kiarostami
Pemain: Homayoun Ershadi, Abdolhossein Bagheri, Ali Moradi, Hossein Noori, and Ahmad Ansar

Sering setiap peristiwa kematian selalu dikatakan bahwa kematian adalah kehendak Tuhan. Tidakkah manusia berhak menentukan kematiannya? Sering manusia begitu takut terhadap kematian dan sering kematian digambarkan sebagai satu bentuk akhir dari segala ‘ kehidupan’. Begitu seramnya gambaran kematian yang selalu di propagandakan manusia secara dogmatis sering membuat manusia lupa untuk memaknai kehidupan yang tengah dijalani. Dogma-dogma akan dosa-pahala yang tak ubahnya seperti transaksi kapitalis menjadikan manusia justru melupakan bahwa banyak sekali kematian-kematian yang telah terjadi di sekitar kita. Kematian akan harapan, kematian akan mimpi, kematian akan keinginan…

Ah bukankan itu jauh lebih mengerikan dibandingkan kematian raga yang sering ditakuti itu? Bukankan ketika manusia mati, mereka tidak perlu lagi memikirkan apa arti mereka dalam kehidupan? Karena orang-orang yang hidup itulah yang akan memberi makna bagi mereka yang mati.

Menonton film Iran ini bagi saya mengembalikan ingatan masa kecil saat saya mengantuk belajar mengaji dan mendengarkan petuah-petuah guru mengaji saya tentang hukuman bagi para pendosa setelah mereka mati. Mungkin saat itulah kepala saya telah dipenuhi oleh paradok-paradok tentang Tuhan. Bagaiamana mungkin sesuatu yang ditasbihkan sebagai yang Maha Pengasih bisa memberi hukuman yang begitu kejam setelah manusia mati. Benarkah vagina-vagina para penzina bakal ditusuk besi panas? Mengherankan semua bentuk kesakitan sesudah mati selalu digambarkan dengan kesakitan fisik saat manusia hidup. Bukankah raga kita telah hancur membusuk saat manusia mati?

Film dengan gaya tutur naratif ini pasti sangat membosankan bagi para pecinta genre holywood yang selalu berplot cepat dengan editing dinamis. Dengan durasi hampir 2 jam film ini hanya mengkisahkan tentang seorang berumur 50an tahun bernama Badii (Homayoun Ershadi) yang berkeliling kota Iran hanya untuk mencari orang yang mau menguburkan dirinya setelah dia membunuh diri nanti. Sampai akhirnya dia bertemu dengan 3 orang yang pada awalnya bersedia menerima imbalan menguburnya, serorang tentara muda, seorang Kurdhi dan serorang sopir taxi warga Afghanistan Mereka akhirnya pergi ke satu tanah lapang dan menginap di sana sambil menggali kuburan bagi Badii. Tetapi pada akhirnya ketiga orang ini tak sanggup menjalankan pekerjaan itu dan membujuk Badii untuk mengurungkan niatnya. Karena tak seorangpun mau membantu menguburkannya dia berencana untuk membuat kuburannya sendiri dan merencanakan membunuh dirinya di keesokan harinya. Hingga pada malam itu dia bertemu dengan seorang tua yang mampu mengurungkan niat Badii untuk membunuh dirinya hanya dengan satu pertanyaan saja : pernahkah kamu merasakan rasa buah Cherry?

Mungkin kita akan bertanya setelah menonton film ini bagaimana bisa sebuah film yang dari sudut estetika para sineas begitu biasa ( kamera kebanyakan hand held dng sudut pengambilan medium close up) bisa memenangkan Palem Emas di Cannes 1998 meski pada awalnya dilaran pemerintah Iran karena memuat isu bunuh diri ? Jawabannya sederhana karena film Kiarostami ini mampu memberi renungan akan kemanusiaan kita. Untuk apa sebenarnya manusia hidup?

Kematian bukanlah hal yang harus kita takuti. Justru hiduplah yang harus kita takuti karena dalam hiduplah sesungguhnya kita harus menghindari kematian-kematian jiwa kita sebagai manusia. Jiwa-jiwa kitalah sebenarnya yang tidak boleh mati.


Posted at 12:21 am by Langitku
Comment (1)  

 
Jun 22, 2004
IN THE MOOD FOR LOVE
IN THE MOOD FOR LOVE Film by Wong Karl Wai
Pemain : Tony Leung (Best Actor Cannes 2000),Maggie Cheung
DOP : Chris Doyle
Art Director : William Chang

Sebenarnya terbuat dari apakah ‘cinta’ itu? Mungkin kata itu adalah kata yang abadi yang terus dipertanyakan sepanjang sejarah manusia. Nabi-nabi pecinta seperti Satre, Gibran, bahkan Rumi si pecinta Tuhan sekalipun mungkin belum bisa mendefinisikan “cinta’ secara benar dan tepat. Freud mencoba lebih merasionalkan ‘cinta’ dengan gabungan reaksi2 kimia dan hormonal di dalam tubuh manusia tetapi tetap saja ada faktur ‘x’ yang terus saja membiaskan makna cinta menjadi lebih buram. Benarkah ada cinta sejati? Benarkah ada cinta tanpa kepemilikan? Bagaimana dengan birahi yang sering sepaket dengan rasa yang sering disebut ‘ cinta’ itu? Benarkah setiap perkawinan harus didasarkan cinta? Atau sebaliknya cinta tidak harus bermuara ke lembaga purba itu? Apa yang dicari manusia dari ‘cinta’ itu sendiri?

In the Mood For Love, besutan Wong Karl Wai ini melahirkan berbagai pertanyaan tentang makna cinta dan perkawinan yang dilahirkan lewat sudut-sudut kamera yang kebanyakan statis dengan pencahayaan ‘gloomy’. Emosi-emosi yang ada coba diwakili dengan gesture para pemainnya, symbol-simbol visual ( ah betapa kita bisa lihat betapa cinta dan rindunya Maggie Cheung saat dia menekan emosinya dalam remasan-remasan jarinya sendiri atau saat dia mencoba menyentuh Tony Leung tapi urung dilakukannya). Film dengan latar belakang Hongkong di tahun 1962 menceritakan tentan Chow Mo-Wan (Tony Leung) seorang jurnalis yang menyewa kamar dari Mr.Koo. Chow tinggal bersama istrinya yg bekerja sebagai resepsionis sebuah hotel. Di hari saat dia pindah ke apartemen itu, Su Lizhen (Maggie Cheung) yang bekerja sebagai sekretaris pindah di apartemen sebelahnya. Sebuah kebetulan di hari mereka pindah, baik istri Chow maupun suami Lizhen tak dapat membantu karena kesibukan mereka masing-masing. Mereka berdua tenggelam dalam kesepian kehidupan perkawinan masing-masing tanpa saling menyadari. Hingga pada suatu ketika istri Chow dan suami Lizhen kedapatan berselingkuh. Karena hal inilah membawa kedekatan hubungan Chow dan Lizhen sebagai teman senasib. Hingga akhirnya mereka menyadari bahwa mereka saling jatuh cinta tetapi tak seorangpun dari mereka berani untuk memulai sebuah hubungan karena norma yang berlaku di masyarakat pada saat itu. Hingga akhirnya Chow harus bertugas ke Singapura. Ketika 4 tahun kemudian dia kembali, Lizhen telah pergi dari apartemen itu . baik lizhen dan Chow yang mengunjungi apartemen itu dengan waktu yang berbeda hanya bisa menyimpan kenangan akan cinta mereka di masa lalu.

Mungkin sebuah plot cerita yg biasa dan sering terjadi di banyak film. Tetapi, saat kita menonton film dalam balutan muram dan miskin kata ini, emosi kita akan terbawa ke dalam satu kontemplasi makna tentang cinta itu sendiri, tentang waktu, tentang kenangan ( Karl Wai selalu begitu di film-filmnya. Hampir semua makna selalu dibalutkan dalam symbol-simbol visual yang muram: Days of being wild, chunking express, happy together). Bagi saya pribadi, saya telah jatuh cinta pada film ini bahkan di saat opening scenenya. Yang jelas, satu hal yang saya bisa belajar dari film ini adalah untuk mencoba menyimpan waktu di seharusnya dia berada.

the past is something we could see, but not touch.
And everything we see is blurred and indistinct.


Posted at 03:55 pm by Langitku
Comment (1)  

Next Page