IN THE MOOD FOR Wong Kar Wai
Gemanya nyaris lenyap ditelan Ang Lee, yang berjaya di Hollywood dengan Crouching Tiger and Hidden Dragon, film yang berhasil menggondol 4 Oscar dan menjadi film asing (Asia) pertama yang menenggak sukses komersial dunia. Tetapi ketika Cannes meminta Wong Kar Wai tahun untuk menjadi salah satu pengajar dalam program Leçon du Cinema, sebuah program khusus pada Festival Cannes untuk memperkenalkan cara bertutur setiap tokoh yang dianggap kharismatik dalam dunia film, maka rasanya Wong Kar Wai bukan hanya pantas untuk kita bicarakan karena dia hadir di program tersebut. Wong Kar Wai adalah fenomena berfilm cara Asia.
Namanya mulai diperhitungkan oleh cineast Eropa ketika ia menggarap Chunking Express, dan kemudian tahun 1997 filmnya Happy Together memenangkan criteria sutradara terbaik pada Festival Cannes. Tahun 2000 namanya kembali mempertebal ingatan publik film akan dirinya lewat In The Mood For Love, yang membuat Tony Leung sang pemain utama merebut gelar aktor terbaik pada Festival Cannes tahun tersebut. Di Perancis film ini dianugerahi piala Cesar, penghargaan tertinggi dalam dunia film, untuk kategori film asing terbaik. Dan dalam katalog film terakhir yang dilihat oleh sutradara ternama dari seluruh belahan dunia, versi Cahier du Cinema, film ini masuk dan mengisi daftar paling panjang, justru di atas Crouching Tiger and Hidden Dragon.
Tak ada yang biasa pada Wong Kar Wai, justru ketika ia bercerita tentang hal-hal yang sangat biasa. Happy Together dan In The Mood For Love adalah dua film luar biasa untuk cerita tentang perjalanan manusia yang sangat biasa tersebut. Yang pertama bercerita tentang sepasang kekasih homoseksual yang musti tersesat dalam gelapnya perasaan berkekasih. Film ini memotret dengan pilu ketersesatan tersebut jauh di negeri seberang, Argentina. Ideologi tango - bahwa hanya dengan mengerti arti sebuah perasaan tersayat oleh cinta maka tak akan penari tango salah langkah - memang kemudian menjadi nadi seluruh kepiluan. Pilihan untuk memakai film hitam putih dan bukan berwarna, seperti sebuah pilihan yang secara artistik dipikirkan dengan cerdas untuk berkata bahwa hidup tidak selamanya “en rose”. Seperti juga pilihan tampilan sehari-harinya sendiri untuk selalu melindungi kedua matanya dengan kacamata hitam. Maka gambar yang bergerak di layar dalam seluruh filmnya selalu tidak jernih dan bersih. Buram!
Sementara film kedua bertutur tentang sepasang laki-laki dan perempuan, masing-masing beristri dan bersuami, yang oleh hal sepélé sehari-hari yang serba biasa celakanya dipaksa bertemu dan berenang dalam gelapnya perasaan yang sama: berkekasih. Mengambil setting Hong-Kong tahun 60an, kalau Happy Together mengambil langkah tango, In The Mood For Love mengambil langkah barongsai yang terluka. Irama film yang lambat kemudian seperti menjelaskan betapa perih luka yang harus dirasa sementara pada saat yang sama langkah tetap harus dijaga, dan kepala naga musti tetap ditegakkan agar tarian bisa diselesaikan.
Cinta adalah tema paling biasa untuk diangkat sebagai sebuah naskah film. Tapi cinta untuk Wong Kar Wai selalu bersifat ambigu karena dia dibangun dari dua tiang perasaan: cinta itu sendiri dan kepiluan. Maka cinta à la Wong Kar Wai tidak dibombardir oleh nafsu apalagi naluri untuk memiliki, sementara kepiluan tidak boros air mata apalagi dorongan untuk terkapar. Ambiguitas kemudian justru menjadi kekuatan pada semua segi, pada cinta itu sendiri maupun pada perasaan pilu yang menemani. Maka dari ambiguitas awal kita dipaksa menelan ambiguitas yang lain, yang memang lahir karena ambiguitas pertama diterima.
Bahasa paling artistik dari permainan ambiguitasnya adalah gerak tubuh dan pilihan musikal. Musik menjadi elemen kuat yang menentukan selera artistik seluruh filmnya, sebagaimana pilihan shot pada gesture tubuh yang sangat biasa dari perjalanan kegiatan sehari-hari manusia (langkah kaki). Masih lekat dalam ingatan saya accordeon Richard Galliano yang menemani langkah Tony Leung menyusuri jalan Buenos Aires pada Happy Together, atau musik liris tahun 60an yang mengiringi langkah Tony Leung atau Magie Cheung pada In The Mood For Love. Langkah kaki yang secara ritmik mengikuti musik yang sama, dan secara sengaja berulang-ulang didengarkan, seperti memberi peringatan bahwa tubuh dan perasaan seperti yang dituturkan oleh Wong Kar Wai berasal dari pengertian hidup yang lain. Sebagai kisah cinta, tidak Titanician dan juga tidak Shakespierrian. Cinta tidak tumbuh dari kekosongan, dan yang paling penting tubuh tidak menjadi instrumen pikiran atau perasaan untuk sekedar mengisi kekosongan. Oleh karenanya kisah cinta chez Wong memang bercerita tentang romantisme utopik, tapi tidak pernah menjadi fantasmagorik.
Pada tingkat ini kita memang tidak punya pilihan lain kecuali menerima bahwa tubuh dan perasaan yang lahir dari interpretasi Wong Kar Wai tentang hidup sangat non-Barat sekaligus sangat non-psikoanalitik. Kalau cinta pada film secara umum selalu mudah terjebak kedalam proses banalisasi à la psikoanalisa Freudien, maka pada Wong Kar Wai cinta justru menemukan ke-baroque-annya dari gerak tubuh yang berpadu dengan musikalitas perasaan yang terluka. Gerak luka yang selalu mengulang-ulang kemudian bukan semata-mata sebuah repetisi. Repetisi juga bukan sebuah kesedihan tragis. Repetisi untuk Wong adalah kesediaan untuk melihat bahwa dalam gerak selalu ada keteguhan hati. Dan dalam keteguhan tersebut selalu ada kemungkinan untuk melanjutkan perjalanan.
Jelas ada bahasa cinematografi yang sama sekali berbeda dari cara bercerita Ang Lee dan Yang Zimou, dua sutradara Asia yang juga mendapatkan kebesaran namanya dalam peta film dunia (Barat). Apalagi kalau ia musti dibandingkan dengan selera bertutur sutradara Hollywod. Wong Kar Wai seperti mahluk luar angkasa yang tidak jelas identitas dan kategori speciesnya. Dan justru karena ia keluar dari identitas dan kategori species sutradara biasa, maka Wong Kar Wai menjadi Wong Kar Wai, dan tidak menjadi siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.
Posted at 10:34 am by Langitku