Gambar Idoep

mencintai manusia,

mencintai bumi adalah

mencintai hidup itu sendiri…


   

<< April 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


links::

 
Apr 18, 2005
Malam Di siang Hari

Catatan setelah pemutaran film Malam di siang hari

Rosebud, 13 April 2005

 

 

 

Awalnya untuk Lukitasari (sang sutradara) adalah Jawa, dan Jawa adalah sebuah petualangan dalam diam. Maka rumah tua yang hening, sepasang kekasih tua yang tak bergeming, dan sebuah undangan kematian untuk seekor kucing. Semuanya bergerak dalam irama yang dibangun dari gambar kekosongan. Gedung tua, kamar makan, dapur, ranjang, langit, bahkan perasaan terkapar sebagai perempuan dan laki-laki. Tetapi apakah Jawa berawal dari kekosongan?

 

Disini kemudian semuanya berawal. Karena kekosongan untuk Jawa ternyata bukan semata-mata emptyness atau kesia-siaan yang sempurna.  Kekosongan adalah kesediaan untuk bersimpuh di hadapan malam yang gulita, dan tunduk pada pagi yang pekat oleh terik surya, sementara waktu begitu melata. Kekosongan adalah berdiri tunduk pada langit tanpa pernah beertanya mengapa siang begitu meranggas sementara kelam tiba-tiba lenyap dalam pelukan kelam. Artinya menjadi Jawa adalah kesediaan untuk berbicara dengan  ruang waktu yang selalu menggeliat dan beringsut dengan lamban mengikuti gerak surya tenggelam oleh malam, oleh Betara Kala. Dan kemudian ruang dan waktu berulang keesokan harinya sampai suatu pengertian tentang diri terwujud dan terasah dalam sunyi, dalam hening, dan dalam keberanian untuk tidak bergeming. Jadi Jawa dalam kisah sepasang kekasih tua adalah bukan hubungan subyek dan obyek yang setiap saat harus digugat untuk kemudian disesali.

 

Dua antipoda untuk melihat Jawa inilah yang membakar diskusi setelah pemutaran film Malam di siang hari. Luki, mengambil antipoda pertama sementara Romo Kuntara, Emmanuel Subangun dan Wachid Hasyim mengambil antipoda kedua. Persoalan mendasar yang digugat dari Jawa adalah bahasa tembang yang menjadi leitmotiv dari film Luki. Untuk Romo Kuntara, yang ahli sastra Jawa Kuno, maka tembang adalah Jawa dan Jawa adalah tembang. Karena itu kata-kata adalah sacral, sesakral keberanian untuk mendendangkan kekosongan yang selalu berulang, berulang dan berulang. Pada tembang, kelihatan memang Luki meletakkan nafas Jawa tidak di dalam kedalaman kata-kata. Sehingga kesakralan tembang seperti menguap, walaupun dalam gambar dan atmosfir yang dia bangun, kelihatan sekali bahwa dia mencoba untuk berdiri di atas tembang. Tapi tembang, kata-kata dan gambar kemudian menjadi tiga elemen yang berdiri sendiri. Dan Jawa kemudian menguap oleh symbol, yang celakanya seperti digugat oleh Emmanuel Subangun, adalah pinjaman dari kaca mata orang asing untuk melihat Jawa. Maka kemudian pilihan pemakaian symbol Jawa yang bercerita tentang hidup dan kekosongan juga menjadi pusat diskusi. Laki-laki dan bukan perempuan, kehidupan dan bukan kematian, kemarahan dan bukan kesumarahan, adalah titik-titik simpual yang mempertemukan sekaligus menegaskan pandangan yang berbeda tentang Jawa.

 

Hal menarik dari serentetan diskusi yang ada, kemudian mulai kelihatan dua antipoda yang bergerak di dalam nalar masyarakat kita. Pertama adalah mereka yang merasa masih kenal dengan Jawa - nafasnya, semangatnya, wataknya, nyalinya, keterpurukannya, keberaniannya untuk melanjutkan waktu, dan ini celakanya dinahkodai oleh kelompok “tua”. Sementara antipoda lain adalah mereka yang kenal Jawa dalam bunyi atau nada yang disampaikan oleh orang asing. Maka teks, film, musik, gambar adalah medium yang dipakai bukan untuk berbicara dengan orang Jawa, tetapi medium yang memungkinkan mereka untuk bercakap dengan dunia luar. Jawa memang tidak tertutup, hermetic, dan tanpa bias ditolak menjadi eksotik. Tapi kita kemudian semakin dijauhkan dari kemampun untuk berdiri dan melihat kaki sendiri. Celakanya adalah kelompok “anak muda” yang berdiri teguh untuk membuka dunia, adalah penikmat eksotisme tanah sendiri.

 

Maka Malam di siang hari bukan hanya berbicara tentang bakat Luki yang telah ditengarai dengan kemenangannya di Italie. Film ini kemudian mempertegas seluruh pertemuan yang pernah diselenggarakan di Rosebud, bahwa kita semakin kehilangan kemampuan untul melihat diri sendiri. Maka dari itu bergabunglah bersama kelompok diskusi Rosebud, mungkin suatu hari pertanyaan seputar film, syair, arsitektur dan ruang, film, musik, atau apa saja yang bergerak di ruang kita sebagai manusia Indonesia selalu bias dirumuskan sendiri. Selamat datang Luki pada pencarian untuk menjadi diri sendiri!

 

 

Jakarta, 17 April 2005  

 

 


Posted at 10:07 am by Langitku

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home