Gambar Idoep

mencintai manusia,

mencintai bumi adalah

mencintai hidup itu sendiri…


   

<< June 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


links::

 
Jun 22, 2004
IN THE MOOD FOR LOVE
IN THE MOOD FOR LOVE Film by Wong Karl Wai
Pemain : Tony Leung (Best Actor Cannes 2000),Maggie Cheung
DOP : Chris Doyle
Art Director : William Chang

Sebenarnya terbuat dari apakah ‘cinta’ itu? Mungkin kata itu adalah kata yang abadi yang terus dipertanyakan sepanjang sejarah manusia. Nabi-nabi pecinta seperti Satre, Gibran, bahkan Rumi si pecinta Tuhan sekalipun mungkin belum bisa mendefinisikan “cinta’ secara benar dan tepat. Freud mencoba lebih merasionalkan ‘cinta’ dengan gabungan reaksi2 kimia dan hormonal di dalam tubuh manusia tetapi tetap saja ada faktur ‘x’ yang terus saja membiaskan makna cinta menjadi lebih buram. Benarkah ada cinta sejati? Benarkah ada cinta tanpa kepemilikan? Bagaimana dengan birahi yang sering sepaket dengan rasa yang sering disebut ‘ cinta’ itu? Benarkah setiap perkawinan harus didasarkan cinta? Atau sebaliknya cinta tidak harus bermuara ke lembaga purba itu? Apa yang dicari manusia dari ‘cinta’ itu sendiri?

In the Mood For Love, besutan Wong Karl Wai ini melahirkan berbagai pertanyaan tentang makna cinta dan perkawinan yang dilahirkan lewat sudut-sudut kamera yang kebanyakan statis dengan pencahayaan ‘gloomy’. Emosi-emosi yang ada coba diwakili dengan gesture para pemainnya, symbol-simbol visual ( ah betapa kita bisa lihat betapa cinta dan rindunya Maggie Cheung saat dia menekan emosinya dalam remasan-remasan jarinya sendiri atau saat dia mencoba menyentuh Tony Leung tapi urung dilakukannya). Film dengan latar belakang Hongkong di tahun 1962 menceritakan tentan Chow Mo-Wan (Tony Leung) seorang jurnalis yang menyewa kamar dari Mr.Koo. Chow tinggal bersama istrinya yg bekerja sebagai resepsionis sebuah hotel. Di hari saat dia pindah ke apartemen itu, Su Lizhen (Maggie Cheung) yang bekerja sebagai sekretaris pindah di apartemen sebelahnya. Sebuah kebetulan di hari mereka pindah, baik istri Chow maupun suami Lizhen tak dapat membantu karena kesibukan mereka masing-masing. Mereka berdua tenggelam dalam kesepian kehidupan perkawinan masing-masing tanpa saling menyadari. Hingga pada suatu ketika istri Chow dan suami Lizhen kedapatan berselingkuh. Karena hal inilah membawa kedekatan hubungan Chow dan Lizhen sebagai teman senasib. Hingga akhirnya mereka menyadari bahwa mereka saling jatuh cinta tetapi tak seorangpun dari mereka berani untuk memulai sebuah hubungan karena norma yang berlaku di masyarakat pada saat itu. Hingga akhirnya Chow harus bertugas ke Singapura. Ketika 4 tahun kemudian dia kembali, Lizhen telah pergi dari apartemen itu . baik lizhen dan Chow yang mengunjungi apartemen itu dengan waktu yang berbeda hanya bisa menyimpan kenangan akan cinta mereka di masa lalu.

Mungkin sebuah plot cerita yg biasa dan sering terjadi di banyak film. Tetapi, saat kita menonton film dalam balutan muram dan miskin kata ini, emosi kita akan terbawa ke dalam satu kontemplasi makna tentang cinta itu sendiri, tentang waktu, tentang kenangan ( Karl Wai selalu begitu di film-filmnya. Hampir semua makna selalu dibalutkan dalam symbol-simbol visual yang muram: Days of being wild, chunking express, happy together). Bagi saya pribadi, saya telah jatuh cinta pada film ini bahkan di saat opening scenenya. Yang jelas, satu hal yang saya bisa belajar dari film ini adalah untuk mencoba menyimpan waktu di seharusnya dia berada.

the past is something we could see, but not touch.
And everything we see is blurred and indistinct.


Posted at 03:55 pm by Langitku

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry