
Taste of Cherry
Directed and written by
Abbas Kiarostami
Pemain: Homayoun Ershadi, Abdolhossein Bagheri, Ali Moradi, Hossein Noori, and Ahmad Ansar
Sering setiap peristiwa kematian selalu dikatakan bahwa kematian adalah kehendak Tuhan. Tidakkah manusia berhak menentukan kematiannya? Sering manusia begitu takut terhadap kematian dan sering kematian digambarkan sebagai satu bentuk akhir dari segala ‘ kehidupan’. Begitu seramnya gambaran kematian yang selalu di propagandakan manusia secara dogmatis sering membuat manusia lupa untuk memaknai kehidupan yang tengah dijalani. Dogma-dogma akan dosa-pahala yang tak ubahnya seperti transaksi kapitalis menjadikan manusia justru melupakan bahwa banyak sekali kematian-kematian yang telah terjadi di sekitar kita. Kematian akan harapan, kematian akan mimpi, kematian akan keinginan…
Ah bukankan itu jauh lebih mengerikan dibandingkan kematian raga yang sering ditakuti itu? Bukankan ketika manusia mati, mereka tidak perlu lagi memikirkan apa arti mereka dalam kehidupan? Karena orang-orang yang hidup itulah yang akan memberi makna bagi mereka yang mati.
Menonton film Iran ini bagi saya mengembalikan ingatan masa kecil saat saya mengantuk belajar mengaji dan mendengarkan petuah-petuah guru mengaji saya tentang hukuman bagi para pendosa setelah mereka mati. Mungkin saat itulah kepala saya telah dipenuhi oleh paradok-paradok tentang Tuhan. Bagaiamana mungkin sesuatu yang ditasbihkan sebagai yang Maha Pengasih bisa memberi hukuman yang begitu kejam setelah manusia mati. Benarkah vagina-vagina para penzina bakal ditusuk besi panas? Mengherankan semua bentuk kesakitan sesudah mati selalu digambarkan dengan kesakitan fisik saat manusia hidup. Bukankah raga kita telah hancur membusuk saat manusia mati?
Film dengan gaya tutur naratif ini pasti sangat membosankan bagi para pecinta genre holywood yang selalu berplot cepat dengan editing dinamis. Dengan durasi hampir 2 jam film ini hanya mengkisahkan tentang seorang berumur 50an tahun bernama Badii (Homayoun Ershadi) yang berkeliling kota Iran hanya untuk mencari orang yang mau menguburkan dirinya setelah dia membunuh diri nanti. Sampai akhirnya dia bertemu dengan 3 orang yang pada awalnya bersedia menerima imbalan menguburnya, serorang tentara muda, seorang Kurdhi dan serorang sopir taxi warga Afghanistan Mereka akhirnya pergi ke satu tanah lapang dan menginap di sana sambil menggali kuburan bagi Badii. Tetapi pada akhirnya ketiga orang ini tak sanggup menjalankan pekerjaan itu dan membujuk Badii untuk mengurungkan niatnya. Karena tak seorangpun mau membantu menguburkannya dia berencana untuk membuat kuburannya sendiri dan merencanakan membunuh dirinya di keesokan harinya. Hingga pada malam itu dia bertemu dengan seorang tua yang mampu mengurungkan niat Badii untuk membunuh dirinya hanya dengan satu pertanyaan saja : pernahkah kamu merasakan rasa buah Cherry?
Mungkin kita akan bertanya setelah menonton film ini bagaimana bisa sebuah film yang dari sudut estetika para sineas begitu biasa ( kamera kebanyakan hand held dng sudut pengambilan medium close up) bisa memenangkan Palem Emas di Cannes 1998 meski pada awalnya dilaran pemerintah Iran karena memuat isu bunuh diri ? Jawabannya sederhana karena film Kiarostami ini mampu memberi renungan akan kemanusiaan kita. Untuk apa sebenarnya manusia hidup?
Kematian bukanlah hal yang harus kita takuti. Justru hiduplah yang harus kita takuti karena dalam hiduplah sesungguhnya kita harus menghindari kematian-kematian jiwa kita sebagai manusia. Jiwa-jiwa kitalah sebenarnya yang tidak boleh mati.