
LIVING OUT LOUD
Written and directed by Richard LaGravenese.
Pemain: Holly Hunter, Danny DeVito, Queen Latifah. Martin Donovan Elias Koteas
Beberapa waktu yg lalu seorang sahabat lama menelpon. Alangkah senangnya bertemu dia kembali ( masih jelas dalam ingatan saat kami SMA dulu kami suka berlomba paling dulu mencapai puncak saat mendaki gunung hanya untuk melihat matahari terbit dan paling keras berteriak : Anjing!). Saat dia bercerita tentang pekerjaannya sekarang (peneliti untuk WWF di hutan Kalimantan) satu pertanyaan spontan keluar dari mulutku ( yg sedang sariawan ): Kamu tidak takut sepi di hutan? Dia balik bertanya: What do you mean? Alone or lonely? Kamu sendiri bagaimana tidak takutkah kamu sepi di kota yang gemuruh ini?
Satu pertanyaan yang sulit dijawab. Kesepian seperti hantu yang sering datang tiba-tiba. Bahkan saat kita ada dalam gemuruh pesta, gelak tawa dan hiruk pikuk keramaian yang menyebelubung. Kita berpura-pura untuk tersenyum bahkan tertawa hanya untuk menipu diri kita sendiri bahwa tak seorangpun mampu menemani hati kita. Tetapi yang paling mengerikan adalah saat kita justru kesepian ketika kita bersama orang yg kita cintai tetapi kita tak bisa ‘menyentuh’nya.
Film yang diilhami dari novel Anton Chekov ini bercerita tentang Judith Nelson ( Holly Hunter ) yang rela keluar dari sekolah kedokteran untuk menikah. Tak lama kemudian dia bercerai karena suaminya jatuh cinta dengan rekan sejawatnya. Judith yang tinggal di sebuah apartemen mewah di New York begitu kesepian bahkan dia sering memanggil ‘tukang pijat lelaki’ hanya untuk menemani dia bercakap. Sampai pada suatu hari dia berkenalan dengan Pat Francato ( Danny De Vito) janitor dan penjaga lift di apartemen itu. Pat yang begitu labil jiwanya karena kematian anak perempuannya itu menjadi pendengar yang baik bagi Judith. Tetapi sebuah hubungan dari jiwa-jiwa yang rapuh mungkinkah bertahan? Secara pribadi saya sangat menyukai acting De Vito di film ini ( mengingatkan saya dengan Robin William di Oneh Hour Photo), dia sangat keluar dari stereotype film-film dia selama ini ( mungkin ini proyek pribadinya karena dia sendiri yang menjadi produser film ini). Dengan seting-seting yang gelap, gambar-gambar yang diam, membuat mood film ini sangatlah depresif. Musik-musik jazz yang dilantunkan Quenn Latifah si pemilik café tempat Judith biasa menghilangkan kesepiannya sungguhlah layak untuk dikoleksi soundtracknya.
Kembali ke sahabat saya tadi, dia meneruskan kalimatnya dengan sebuah statement yang mungkin bakal saya ingat semampu saya mengingatnya: nja, kesepian itu sampai kiamatpun tak bakal bisa dilawan. Karena rasa itu datang dan perginya tergantung diri kita memaknai hal-hal sekitar kita dan apa yang terjadi dalam hidup kita. Jadi daripada kita menghabiskan energi untuk melawannya mengapa kita tidak mencoba untuk bersahabat saja dengannya.
( ah, ingin kukatakan padanya bahwa beberapa hari yg lalu aku menulis tentang kesepian sebagai bentuk kehilangan akan rasa percaya. Dan ketika manusia sudah kehilangan rasa percaya terhadap apapun yang ingin dia percayai, saat itu pulalah dia telah bersiap memembunuh dirinya dng hantu kesepian tadi)
tentu saja aku agak gengsi menanggapinya maka daripada aku bingung aku bilang saja wah..makanya lagunya Pas band yg judulnya kesepian kita itu asyik ya…
Ingatkah kita pernah saling memimpikan
Berlari-lari tuk wujudkan kenyataan?
Lewati segala keterasingan
Lalui jalan sempit yang tak pernah bertuan
Ingatkah kita pernah berpeluh cacian
Digerayangi dan geliati kesepian
Walaupun sejenak nafas dari beban
Tuk lewati ruang gelap yang teramat dalam
Hidup ini hanya kepingan
Yang terasing di lautan
Memaksa kita, memendam kepedihan
Tapi kita juga pernah duduk bermahkota
Pucuk-pucuk mimpi yang berubah jadi nyata
Dicumbui harumnya putik-putik bunga
Putik impian yang membawa kita lupa