
November 1828
Directed and written by Teguh Karya
Pemain: Slamet Rahardjo, Yenny Rachman, Sardono W. Kusuma, Sunarti Rendra, Maruli Sitompul
Saya tidak suka dipotret. Jadi kalau melihat album-album foto di keluarga saya, pasti saya berdiri paling tidak keliahatan atau wajah saya selalu keliatan cemberut. Dulu, bapak saya sering marah karena beliau suka memotret. Bahkan memotret apa saja, pemandangan, suasana kota, arisan, bahkan adik-adik saya yg sedang tidurpun dia potret. Saya tidak habis mengerti dengan kesenangan dia sampai satu hari di suatu sore di hari hujan, saya bertanya tentang kegemaraannya itu. Jawabannya sederhana: kita bisa belajar sejarah. Tetapi sebenarnya untuk apa kita harus belajar sejarah?
Bagi saya belajar sejarah seperti halnya merangkai puzzle-puzzle hidup dalam bingkai-bingkai waktu. Dan jika tidak hati-hati waktu-waktu itu akan mengikat kita untuk selalu berada di tempat yang sama. Tidak bergerak sama sekali. Sejarah selalu berkaitan dengan kejadian,ruang dan waktu. Ruang adalah tetap ,waktu selalu bergerak, sedangkan kejadian selalu relatif. Bagi saya jika ada satu variabel di atas yang berbeda sedikit saja, pemaknaannya haruslah berbeda mengikuti kekinian yang ada.
November 1828 adalah film indonesia tentang sejarah favorite saya setelah Tjut Nya Dien. Film ini memamerkan tradisi masyarakat Jawa yang sangat liat untuk ditindas. Ide ceritanya diilhami dari drama Montserrat. Film ini juga mendapat banyak penghargaan, termasuk Citra FFI 1979 untuk film, Sutradara, Musik, Artistik, Pemeran Pembantu Pria (El Manik). Dengan pengambilan gambar di daerah Bantul, Yogyakarta, November 1828 mengambil setting periode Perang Jawa (1825-1830). Perang ini pecah akibat munculnya intrik internal di lingkungan keraton Yogyakarta dan juga merupakan reaksi keras masyarakat Jawa Tengah atas kebijakan Belanda yang memperkenalkan birokrasi kolonial modern berbasis pungutan pajak di Pulau Jawa. Dipimpin oleh Pangeran Diponegoro yang kharismatik, perang ini merupakan salah satu simbol penting perlawanan terhadap pemaksaan kolonialisme Belanda di Jawa. Satu hal yang membuat Teguh Karya sebagai salah satu idola saya itu karena ketelitian penyutradaraannya baik dari akting para pemainnya sampai ke detilnya. Baik itu di kostum ( saya sangat salut dengan riset yang dilakukan untuk membuat kostum yang mendekati keadaan real jaman itu. Bandingkan dengan para pembuat sinetron yang bersetting jaman yang lebih awal tetapi memakai kain yang gemerlap dan berwarna warni. Padahal selain batik2 pesisir, warna pada batik sebelum tahun 1900 an hanya mengenal beberapa warna dasar saja seperti biru, putih, hitam, dan coklat). Musik yang digarap oleh Franky Raden dan Sardono W Kusumo memberi aksen suasana jaman saat itu menjadi lebih kental. Bagi saya November 1828 lebih sebuah relativitas kejadian dalam penggalan satu waktu untuk sebuah dimensi ruang. Tidak ada salahnya kita mengalaminya agar justru tidak terjebak dalam romantisme yang sering menyertainya.
Sekarang ini saya sedang menabung agar bisa membeli kamera digital. Saya ingin meniru bapak saya untuk memotret apa saja yang terjadi di sekitar saya. Tetapi jika anak saya nanti bertanya untuk apa saya tidak akan menjawab untuk belajar sejarah. Jawaban saya adalah: saya ingin membekukan semua relativitas kejadian, bergeraknya waktu, dan tetapnya ruang di tempat yang seharusnya berada. Karena jika saya lupa membawa kejadian yang dimiliki waktu sebelumnya ke waktu yang sekarang dalam ruang yang tetap, saya hanya akan terikat oleh kenangan. Dan buruknya kenangan sering menjebak saya dalam romantisme yang tidak sesuai lagi dengan kekinian ( mungkin karena itulah saya sangat tidak suka dengan reuni apa saja). Jika kekinian itu tidak sesuai lagi dengan kenangan, kekinian sekarang akan membawa penyesalan. Meski kenangan selalu indah, harapan selalu mengkawatirkan, saya ingin mensejarahinya dalam satu tempat: sekarang. Kekinian saya.
note: thanks to disctarra yg telah merelease film ini dalam bentuk vcd
Posted at 12:29 am by Langitku