Director: Caroline Link
Pemain: Juliane Köhler, Regine Zimmermann, Merab Ninidze, Matthias Habich, Gabrielle Odinis
Hal yang paling tidak saya sukai sebenarnya adalah reuni.Setiap ada reuni, apa saja baik sd, smp, temen2 kuliah sampai reuni sanggar tari dimana saya dulu belajar,saya selalu menghindar dengan berbagai alasan agar tidak datang. Biasanya kalau saya tidak datang, keesokan harinya telpon atau sms bertubi2 datang dan menanyakan alasan kenapa saya tidak datang. Seperti biasa otak saya sangat cepat kalau hanya mencari alasan. Mulai dari saya sakit sampai nenek saya meninggal ( sumpah saya tidak bohong nenek saya memang sudah meninggal 10 tahun yang lalu, saya tidak menipu mereka karena saya cuma tidak menyebukan kapan nenek saya meninggal bukan?). tetapi alasan sebenarnya adalah:pertama, saya tidak suka membingkai waktu. Saya tidak suka mengambil kenangan yg sudah terlipat rapi di tempatnya untuk diaduk2 kembali dengan kekinian saya. Kedua, saya benci ketika orang mengharapkan kekinian saya itu harus sama dengan masa lampau. Ketika saya datang dengan tampang tetap lusuh, rambut acak2an, dan ketawa ketiwi yang sama, teman2 saya selalu berkomentar: ah kamu itu masih sama tidak juga dewasa. Kemudian ketika mulai bercakap2 dan mereka tahu isi batok kepala saya yg sekarang komentar mereka : AH kamu kok beda sekali sih. Bukannya makin tobat malah makin radikal. Lah mereka maunya apa? Sebenarnya siap tidak mereka dengan perubahan? Perubahan sekecil apapun pasti membawa ketidaksiapan. Orang akan selalu lebih suka berada dalam ‘comfort zone’ mereka. Takut, cemas , kawatir.jika harus keluar sarang.
Nowhere in Africa bercerita tentang satu keluarga Jerman yang berimigrasai ke Africa karena mencoba menyelamatkan diri dari kekejaman Nazi pada tahun 1938. Walter Redlich, istrinya Jettel dan anak mereka Regina. Dari keluarga kelas menengah yang sangat mapan mereka harus menjadi petani di Africa dengan kondisi alam dan budaya yang sama sekali berbeda. Juru masak mereka Owour adalah sahabat pertama mereka yang mengajarkan mereka tentang budaya Africa, bahasa dan bagaiamana mereka bertahan hidup di negeri yang sangat asing. Plot film sangat tertata diselingin sinematografi yg matang, sound design yg menyatu dan permainan bagus dari julane kohler sebgai Jettel. Seorang istri yang manja dan pada akhirnya dia menjadi matang baik dalam memandang hidupnya yang tidak selalu berjalan mulus. Saya sangat suka bagaimana dia harus menekan emosinya saat dia tahu Regina melihatnya tidur dng tentara jerman agar suaminya bisa dibebaskan. Bagaimana walter dan jettel harus menyelesaikan hal2 yang tidak pernah mereka selesaikan selama ini sebagai suami istri. Dan pada akhirnya Africa membuat pribadi2 mereka menjadi matanga. Saat keluarga ini kembali ke Jerman, Africa tetaplah rumah bagi mereka.
Berubah. Itu sebenarnya bagi saya yang harus setiap manusia sadari. Setiap hari pasti ada perubahan. Satu uban tumbuh. Satu tunas tumbuh, ada daun gugur. Kelahiran.kematian.perubahan sering mengerikan tetapi tak jarang juga membahagiakan. Bahkan cinta pun selalu berubah. saya pernah dicemooh dan dianggap skeptis karena opini saya bahwa cinta pertama dan cinta sejati itu tidak pernah ada.mengapa? bagi saya setiap saya mencintai seseorang selalu pertama dan sejati. Pertama karena saya pasti tidak akan memberi cinta yg kepada orang itu sebuah cinta yg sama yg telah saya berikan kepada orang lain. Sejati karena setiap saya mencintai seseorang saya selalu sungguh2 dng cinta saya. setiap cinta pasti berubah. Perhatikan saja, disaat kita jatuh cinta, di dalam cinta dan memelihara cinta. Samakah? Bagi saya, cinta selalu membawa tanggung jawab. Kesetiaan terhadap cinta bagi saya yg menentukan perubahan cinta itu. Kesetiaan bukan kepada invidiu tetapi lebih kepada cinta itu sendiri. Jadi kalau saya menuntut kekasih saya setia. Itu saya tidak menuntut dia setia kepada saya. Tetapi setia kepada keputusannya mencintai saya.
Kesadaran akan perubahan inilah yg sebenarnya harus selalu kita sadari. Karena kalau tidak, kita akan selalu terebelenggu waktu, terbingkai kenangan. Semua hal di dunia setiap harinya selalu tdk akan pernah sama. Hanya kedewasaan kita menghapdai perubahan itulah yg membuat kita berani mengisi hidup. Jadi itulah kenapa saya tidak pernah datang reuni. Saya benci ketika dalam kekinian jiwa kita terbingkai dng masa lalu. Saya hanya menyukai satu waktu SEKARANG.