|
![]()
The Last Temptation of Christ Saya paling tidak suka mengingat saat saya anak-anak. Karena saya selalu melihat satu sosok anak perempuan yang terlalu penakut terhadap banyak hal. Saya takut ulat, saya takut topeng monyet, saya takut kucing, saya takut menyebrang jalan, saya takut di rumah sendiri, saya takut malam, saya takut tertidur bahkan saya takut Tuhan. Rasa takut itu sungguh menyiksa dan kadang membuat saya berpikir mungkin saya telah gila. Sehingga waktu saya SMP ada serorang kakak teman membuka biro psikiater, sayalah pasien pertamanya ( karena saya memang berpikir saya gila waktu itu). Tetapi sungguh mengecewakan, kakak teman itu dalam diagnosa pertamanya hanya bilang: ah Nja, itu wajar karena kamu adalah manusia. Kalau kamu takut berdoa saja pada Tuhan. Prekk sejuta! Itulah umpatan saya dalam hati saat saya keluar dari ruangan dia. Wajibkah manusia harus mempunyai rasa takut? Atau menjadi manusia adalah jawaban yg paling gampang untuk setiap hal yang sering tak terjawab? Ketika tahun 1988 Martin Scorsese memfilmkan The Last Temptation of Christ yang screenplaynya ditulis oleh Paul Schrader berdasarkan novel by Nikos Kazantzakis , hal pertama yg saya pikir adalah menonton film ini justru kita harus melepas ‘kemanusiaan’ kita yang sepaket lengkap dengan ego. Film yang mungkin paling controversial yg pernah saya lihat ( Passion of Christ mah lewat jaohh) ini menceritakan tentang Yesus dari sudut pandang dia sebagai manusia utuh. Lengkap dengan rasa takut akan panggilan suci dari Tuhan dan mencoba segala cara agar Tuhan membencinya ( mungkin konsep ini yg membuat film ini dari awal sudah membuat orang-orang yg dogmatis bakal menghujat mati Scorsese). Film ini mengisahkan sejarah Yesus dari awal dia menerima wahtu kenabiannya hingga hari penyalibannya. Bagaimana Yesus ( William Dafoe) digambarkan sebagai sosok yang lemah, peragu,penakut begitu ingin menolak ‘tugas’ nya sebagai utusan. Dia juga digambarkan tergoda dan bercinta dengan Maria Magdalena seorang pelacur . Keraguan Yesus sebagai utusan inilah yang coba ditampilkan Scorsese secara utuh. Bahkan saat dia menerima tugas sebagai utusan hingga saat penyalibannya keraguan ini masih ada. Di titik-titik kematiannya inilah uji coba terhadap kemantapan hatinya diuji. Film ini sangatlah cerdas menampilkan sisi manusia Yesus dan mampu mencabik emosi yg menontonnya ( tentu saja jika Anda rajin ke sekolah minggu). Dan film itu berakir hanya kalimat yang keluar dari mulut saya: Scorsese memang Anjing!!! ( maksudnya saya spechless hehehehe). Kembali ke soal rasa takut saya. Akhirnya dari diagnosa kakak teman saya itu, saya yang waktu itu baru saja tumbuh buah dada saya justru hilang rasa takut saya pada satu hal ( lumayan kan?). Saya jadi tidak takut lagi pada Tuhan. Saya justru jatuh sayang dan kasihan sekali padaNya. Betapa tidak, Dia menjadi alasan dan kambing hitam bagi setiap hal buruk yang terjadi pada manusia karena kesalahan manusia sendiri. Kalimat-kalimat: Kehendak Tuhan, cobaan Tuhan, atau Tuhan sedang menguji kita menjadi dalih akan rasa takut manusia mengakui bahwa semua hal buruk terjadi karena kesalahan manusia sendiri. Mungkin seperti Yesus yang menjadi nabi, sebenarnya manusiapun takut menjadi manusia yang bertanggung jawab atas nama manusia. Anyway, paling tidak saya cukup senang dan berterima kasih pada kakak teman saya selain satu rasa takut saya hilang, saya tidak perlu membayar ongkos konsultasi dia. Dan saya tetap punya banyak rasa takut…sampai sekarang! NOTE: Tontonlah film ini dengan lapang otak dan jiwa dan perbanyaklah senyum agar terhindar dari stroke, keguguran maupun jantung koroner akibat kemarahan yang serius. |
| Leave a Comment: |